Bagi sebagian orang, perjalanan dinas (business trip) terdengar menyenangkan. Bayangannya adalah naik pesawat, bertemu klien di lobi mewah, dan tidur di kasur hotel yang empuk. Namun, realitanya seringkali berbeda bagi mereka yang harus menetap di luar kota dalam durasi lama, misalnya dua minggu hingga satu bulan penuh.
Tinggal di kamar hotel standar seluas 18-24 meter persegi untuk waktu yang lama bisa memicu “cabin fever” rasa terkurung dan bosan yang luar biasa. Selain itu, biaya yang dikeluarkan perusahaan pun bisa membengkak drastis.
Jika Anda atau perusahaan Anda sedang merencanakan penugasan jangka panjang, dilema klasik pasti muncul: Tetap di hotel atau sewa apartemen? Mari kita bedah perbandingannya dari sisi kenyamanan dan finansial.
1. Perbandingan Ruang dan Privasi
Ini adalah perbedaan yang paling mencolok. Di hotel, kamar tidur Anda adalah ruang kerja Anda, sekaligus ruang makan Anda. Anda tidur, bekerja, dan makan di ruangan yang sama. Untuk durasi 2-3 hari, ini mungkin tidak masalah. Namun untuk 30 hari? Ini sangat melelahkan secara mental.
Sebaliknya, apartemen (bahkan tipe studio sekalipun) biasanya dirancang lebih fungsional. Ada area dapur (pantry), area duduk, dan area tidur. Jika Anda menyewa tipe 1 Bedroom atau 2 Bedroom, Anda memiliki sekat dinding yang jelas antara area istirahat dan area kerja. Pemisahan ruang ini sangat penting untuk menjaga kewarasan dan produktivitas selama bekerja jarak jauh.
2. Fleksibilitas Gaya Hidup (Makanan & Laundry)
Tinggal di hotel berarti Anda bergantung sepenuhnya pada layanan luar. Mau makan? Harus pesan room service (mahal) atau delivery online (bosan). Mau cuci baju? Layanan laundry hotel biasanya menghitung biaya per potong pakaian, yang jika diakumulasi sebulan bisa setara harga tiket pesawat.
Di apartemen, Anda memiliki akses ke dapur pribadi. Anda bisa menyeduh kopi sendiri, memasak sarapan sehat, atau sekadar menghangatkan makanan. Banyak unit apartemen juga menyediakan mesin cuci atau akses ke laundry kiloan di lantai dasar yang jauh lebih hemat. Anda bisa menjalani rutinitas layaknya di rumah sendiri, bukan seperti turis.
3. Efisiensi Biaya (Cost Efficiency)
Mari bicara angka. Taruhlah rata-rata hotel bintang 3 atau 4 yang layak di Jakarta berharga Rp500.000 hingga Rp700.000 per malam.
- Hotel: Rp600.000 x 30 hari = Rp 18.000.000,-
Angka yang fantastis untuk sekedar tempat tidur, bukan?
Sekarang bandingkan dengan sewa apartemen. Apartemen tipe studio full furnished di lokasi strategis seringkali bisa didapatkan dengan harga mulai dari Rp4 juta hingga Rp7 juta per bulan. Selisihnya bisa mencapai lebih dari 50%.
Tantangan Sewa Apartemen: Masalah Durasi Kontrak
Satu-satunya kendala mengapa orang ragu memilih apartemen adalah durasi sewa. Kebanyakan pemilik unit apartemen (owner) hanya mau menyewakan unitnya minimal 6 bulan atau 1 tahun. Tentu ini tidak cocok untuk business trip yang hanya berlangsung 1 atau 2 bulan.
Namun, industri properti kini sudah berubah. Sekarang sudah ada platform yang menjembatani kebutuhan sewa jangka menengah ini. Anda bisa mencari opsi apartemen bulanan melalui situs penyewaan properti yang fleksibel.
Dengan opsi bulanan ini, Anda mendapatkan harga yang jauh lebih murah daripada tarif harian hotel, tanpa harus terikat komitmen kontrak tahunan yang memberatkan.
Kesimpulan
Jika perjalanan dinas Anda hanya berlangsung 1-3 hari, hotel adalah pilihan terbaik karena kepraktisannya. Namun, jika Anda harus menetap lebih dari dua minggu atau sebulan, apartemen adalah pemenangnya.
Selain menghemat anggaran operasional perusahaan secara signifikan, tinggal di apartemen memberikan kenyamanan psikologis dan ruang gerak yang lebih luas, membuat Anda tetap produktif dan betah meski jauh dari rumah.


